Running Business During Mercury Retrograde and Cimit Gave Birth!
Halo semuanya,
Bagaimana kabarnya? Baru sempat nulis lagi ini setelah riweuh sama pesanan tiga minggu terakhir, ditambah masuk ke Mercury Retrograde dan pas juga sama Full Moon kemarin yang cukup intens ya energinya. Semoga kalian yang membaca ini juga tidak remuk-remuk amat hehe. Sebagai konteks, ini Cimit’s Bakery emang rada klenik ya karakternya biar ga kaget sama yang mau diceritain di blog kali ini. Oh, dan Cimit lahiran! aku akan ceritakan kisahnya di bawah yaa.
Setelah official open Cimit’s Bakery tanggal 25 Agustus lalu yang ternyata adalah Jumat Pon (wow, baru sadar haha), kami kebanjiran orderan dan lumayan agak susah ini atur schedulenya. Terutama karena base dari semua menu adalah sourdough yang butuh waktu fermentasi cukup lama. Sehingga untuk memudahkan mekanisme kerja kami bikin scheduling gitu. Setiap hari ada berapa orderan untuk masing-masing menu, trus dibikin lah jadwal dari kapan mulai aktivasi sourdough, mix, ferment, stretch and fold, 2nd ferment, proofing, bake, cooling down dan orderan ready to pack, lalu send. Biasanya ditarik mundur gitu, masukin waktu dari kapan dia harus dikirim, baru nentuin jam-jam ke belakangnya.
Dari semua menu yang prosesnya paling panjang tentu saja roti, karena dia butuh paling tidak total 30 menit mix, lalu ferment total hingga 15 jam, baru bisa di-bake. Proses cooling down nya pun paling lama, sekitar 1 jam an baru bisa dipotong. Jadi biasanya menu ini akan kami olah duluan saat starter sudah ready aka mengembang sempurna. Setelah itu yang proses persiapan agak lama adalah soft cookies, karena dia setelah di mix bahan-bahannya harus dimasukkan freezer dulu agar saat forming satuan lebih mudah dibentuk (ga benyek gitu), setengah jam kemudian baru bisa dibulet-buletin sambil masukin filling dan topping dark chocolate. Kalau udah gini enak aja, tinggal masukin freezer dan nanti kalau ada pesanan tinggal di-bake sebentar.
Untuk foccacia sebenarnya dari segi bahan tergolong simple, tapi ini tekniknya agak sedikit tricky. Ada sekali kami cukup berhasil menemukan resep final dan teknik serta timing yang pas untuk pengolahan. Tapi, karena biasanya kami biarkan ferment overnight, ketika kelebihan waktu ferment sedikit saja dia langsung turun lagi jadi ga ngembang sempurna gitu. Semacam udara yang ke-capture di dalam adonan langsung keluar lagi. Menu satu ini paling bikin Chris sedikit lebih stress ngolahnya haha.
Untuk banana cake so far paling simple bikinnya tapi paling banyak bahannya. Kami bahkan belum sempat bikin untuk diri sendiri jadi setelah dapat formulasi yang pas langsung bikin untuk orderan semua. Semalam pas di acara buka puasa kuncian Fata baru sempet icip sedikit dan ternyata aduhai enak banget hahaha.
Keriweuhan baking yang ternyata bertepatan mulai masuknya Mercury Rx ini bikin kami sedikit agak kuwalahan. Pas pula kami sedang dapat tugas tambahan dari kantor masing-masing, side project, dll. Sehingga beberapa kali Chris sepulang kerja langsung tepar dan bahkan udah ga kuat olahraga. Jadinya kami belum lanjut lagi manjatnya, rencana akan request PT aja biar lebih disiplin (butuh external pressure nih anaknya wkwk). Tapi yoga tetep lanjut walau Chris beberapa kali bolong. Aku si pengennya tetep on schedule olahraga meski Chris milih tidur aja buat rest.
Tapi ya, ternyata nyiapin menu baking dari A ke Z ini emang sesuatu, perintilannya banyak banget karena semua dikerjain sendiri. Masalahnya, kami punya waktu buat ngadon malam setelah selesai kerja dan olahraga. Nah, itu biasanya udah ngantuk banget, jadi kadang suka hilang fokus. Mau ngambil spatula malah yang diambil tisu lah. Mau nimbang biji malah ngurusin bahan adonan utama lah. Jadi kecampur-campur mekanisme kerjanya dan akhirnya selesainya jadi lebih lama, kurang efisien waktu. Jadinya kami memutuskan untuk gantian power nap dan ngadon, biar salah satu lebih waras pas nyicil kerjaan.
Yang paling-paling, pas pesanan lagi banyak-banyaknya, Chris beberapa kali missing out something. Kayak harusnya nge-bake 10 cookies malah dia ngebake 9, terus lebihan pas baking di awal udah dia cemilin duluan karena dikira lebih, padahal pesenan udah ditungguin. Jadilah dia nge-bake lagi satu cookie dengan waktu yang dibutuhkan 30 menit tambahan untuk siap di-pack. Dia juga jadi bolak-balik nganterin pesenan ke SCH dua kali karena udah ditungguin satu customer, tapi menu lainnya untuk customer lain belum siap karena harus bake ulang akibat gosong (adonan foccacia udah ngembang sempurna malah gosong T.T) Padahal aslinya bisa dianter barengan sekalian malah jadinya bolak-balik dua kali. Trus yang roti dikira anter ke SCH juga (10 menit dari kosan), ternyata kudu dianter ke rumah customer yang mana adalah 1,5 jam PP. Ini karena miskomunikasi aja masalah anter-anter pesenan. Akhirnya aku bilang ke Chris kalau alamatnya jauh mending minta pick up gosend aja, ga usah maksain harus anter apalagi kalau kita masih ada orderan yang harus dikerjain. Ada lagi pas tengah-tengah sesi baking, mati listrik dong. Lalu ada beberapa kisah silly lainnya yang bikin meringis pas ngerjain tapi jadi bahan ngakak besoknya. Terima kasih Mercury Rx pembelajarannya :)
Nah, pas weekday agak selo ga ngerjain orderan, aku sengaja nyari-nyari referensi untuk case serupa. Bagaimana menemukan keseimbangan antara berkarya dan berbisnis. Chris itu lebih ke creator, tapi aku lebih suka bikin sistem kerja biar efektif efisien waktu dan energi. Aku gamau gara-gara cape kerja dan ngurusin pesanan jadi ga cukup istirahat dan ga sempat olahraga. Jadi scheduling itu bagian penting untuk mengatur flow kerjaan. Akhirnya kami bagi tugas. Chris beli bahan karena kebetulan dia bisa beli sekalian pulang kerja, langsung aktivasi sourdough, habis magrib olahraga (manjat atau yoga) dulu, baliknya baru ngadon (tergantung besok ada pesenan apa), rest sekitar jam 10 malam, subuh bangun buat fold roti, Chris siap-siap kerja karena masuk subuh (jam 5 sudah ke kantor), aku lari pagi dulu lalu cari sarapan sebelum kerja, siang tinggal bake, packing, dan anter pesanan. Sore kelar kerja begitu lagi, repeat. Pas wiken ga ngerjain tugas fulltime job, tapi nyicil side project atau ada yang booking sesi buat reading tarot.
Surprisingly, semuanya ternyata masih doable asal sesuai schedule baking-nya, Nah yang suka kacau itu kalau ada yang miss dalam prosesnya sehinggal misal, produknya failed jadi ga bisa dikirim dan harus mengulang prosesnya dari awal. Masalahnya adalah, sourdough butuh minimal overnight fermentation, jadi ga bisa yang langsung ngadon dan bake selesai di hari yang sama. No wonder why olahan sourdough lebih mahal, selain lebih sehat juga proses kerjanya lebih panjang.
Tapi kami cukup suka dengan pembelajaran ini, karena jadi tau warna karakteristik kami masing-masing dan bagaimana kami bisa team-up untuk menginisiasi bisnis. Ternyata create menu sama jualan itu beda banget spirit-nya. Chris itu lebih ke creator, recipe research, the artist lah istilahku. Kalau aku lebih ke manager, business management, dan operator. Jadi Chris akan trial and error R&D create menu, aku akan kurasi bahan, menghitung biaya operasional, biaya produksi, menentukan HPP (fixed cost dan variable cost) dan harga jual, walaupun marginnya sangat sedikit. Satu menu itu paling untungnya 1000an wkwk. Kami ga berani ngasih harga lebih dari 50k karena ini masih market Jogja, intinya adalah kami ingin menginventori menu-menu enak dan aman untuk dikonsumsi dengan reasonable price, majority customer suka dengan produknya dan ada kemungkinan untuk repeat order. Karena bagi kami berdua yang juga hobi kulineran ini, patokan menu enak itu kalau sampai customer mau repeat order, berarti pertimbangan harga dan rasanya masuk akal, masuk hati, dan cocok di lidah hehe.
So far kami masih bisa mengerjakan berdua termasuk bagian cuci dan beres-beres alat, dengan catatan orderan banyak hanya boleh di hari kami sama-sama libur, yaitu Sabtu, selebihnya tidak berani terima orderan banyak karena masih ada fulltime job. Beberapa mulai menawarkan apa ga butuh karyawan? masalahnya bukan ga butuh, tapi space-nya yang belum ada. Mungkin tahun depan ya semoga rumah sudah jadi dan siap untuk bikin dapur yang agak lega.
Aku si senang dengan pengalaman membangun bisnis ini pelan-pelan, setidaknya belajar dari sisi manajemen bisnisnya. Tapi nurani terbesarku tetap mau mengembangkan Titeni, menu-menu untuk healthy gut, biar seimbang sama cemilan manis ini hoho. Juga tetap ada mimpi suatu hari bisnis ini bisa automate dan bisa buka kesempatan kerja untuk orang lain, meskipun saat ini ya mampunya skala artisan dulu.
Kemarin sempat ngobrol singkat tentang human design sama teman-teman klenik saat sarapan di Depot Temu Kini. Ternyata aku itu manifesting generator, dan Chris reflector. Now, that makes sense kenapa tektokan teaming aku sama Chris itu kebanyakan emang gitu sistemnya. Aku ngide, Chris ngasih bayangan proyeksinya, terus start aktualisasi, operasiin mimpinya jadi nyata. Sebenarnya aku bisa gerak sendiri karena kekuatan manifesting dan generating, tapi dengan adanya Chris energi itu bisa sustain for longer. That also answers kenapa endurance ku lebih stabil daripada Chris. Semacam tanpaku Chris kosong aja gitu hihi. Nice lesson learned. Itu juga kenapa Chris bisa lebih sedih kalau pas aku down, nasib reflector ye kan. Mungkin next akan coba belajar human design untuk pengembangan bisnis. Biar bisa kayak bapak-bapak senior Kagama yang hobinya ikut race keliling dunia atau ultra run. Bisa meluangkan waktu buat olahraga 3 jam sehari karena bisnisnya udah automate, udah ga jadi buruh lagi. Sekarang mah masih hustling banget semua sumber rezeki dibuka buat cicilan KPR wkwk.
Di tengah keriweuhan mengatur schedule harian yang lagi padat-padatnya, Cimit lahiran dong gais! Anaknya 4 dan warnanya beda semua. Ada yang item polos, ada yang orange polos, ada yang motif hitam-putih, ada yang belang-belang kayak Cimit. Gemes banget bayiiiik. Lahirannya tanggal 4-5 September 2023, tengah malam Selasa Wage (ngeri ga tu kucing-kucing ambisius haha). Jadi sekarang kamar kosan kecil ini ya jadi ruang buat tidur, mandi, buang air, kerja, ngembangin bisnis baking, reading tarot, dan sekarang rumah untuk 5 kucing. Pemanfaatan ruang yang sangat efisien bukan? Saking padatnya agenda udah ga ada waktu untuk gloomy-gloomy di kamar, yang ada selalu ngerasa kurang waktu buat rest huhu.
Aku kira karena hamil muda (7 bulan), dan lahiran di umur 9 bulan (masih kitten) akan membuat Cimit mengalami trauma post-partum, sehingga dia akan menelantarkan anak-anaknya, ini karena ngelihat Cimit yang bunting gede masih lincah naik genteng dan ngajak main kejar-kejaran ya. Ternyata setelah lahiran yang terjadi adalah kondisi sebaliknya. Cimit tergolong anxious dan super responsible mom. Dia hanya butuh di-support. Setiap anaknya ngeong dikit, misal dia keluar box untuk pup atau makan sebentar, terus anaknya nangis-nangis kehausan mau nenen, dia auto masuk box lagi buat jilat-jilat anaknya dan nenenin. Benar-benar insting seorang ibu pada dasarnya. Aku ga sadar, kalau ternyata Cimit se-happy dan se-grateful itu atas kehadiran anak-anaknya. Bahkan saat dia kehabisan energi ngurusin anak-anak ini, habis nenenin dia auto teler, entah di dalam box atau keluar buat nyari adem selonjoran. Lalu aku telusur lagi, kenapa ya? Apa karena dia dulu di-abandon pas masih kecil, sehingga harus cari orang yang mau ngurus dia, hidup sendiri terpisah dari orang tua dan saudara-saudaranya, jadi dia bersyukur banget pas ada anak-anak ini, seakan, “Akhirnya aku bisa punya keluarga kucing lagi!”
Jadi ya tugasku selama Cimit bertumbuh hingga hamil dan melahirkan ini benar-benar jadi support system-nya dia. Beberapa kali aku gendong sambil ajak ngobrol, kayak “Cimit udah waktunya lahiran, udah boleh loh, nanti aku temenin, aku bantuin, ini box-nya udah disiapin, mam sama vitaminnya juga udah ada.” Trus beneran besok malamnya pas udah mau tidur dia kontraksi dan nyari tempat buat lahiran. Pas aku masukin kardus dia ngeong-ngeong ga boleh ditinggalin. Mungkin karena sakit kan, jadi aku elus-elus terus sampai air ketubannya pecah dan beberapa menit kemudian lahiran anak pertama.
Setelah aku perhatikan, anak-anaknya cimit tergolong gede-gede, pantes dia yang masih kecil badannya agak effort pas mau ngeden pertama kali. Ini sudah hari ke-empat dan dia masih beberapa kali ngeluarin darah, ga banyak, cuma bercak-bercak sisa lahiran. Darah nifas gitu lah. Terus ternyata anaknya Cimit ini nggragas banget, laperan mulu (ya namanya bayi kerjanya cuma nenen sama tidur wkwk). Jadi cimit suka kelaparan pas lagi nenenin 4 anak-anaknya ini. Alhasil beberapa kali aku kudu siapin wet food-nya terus suapin Cimit di dalam box. Kalau telat aja ngasih makan, mungkin produksi susunya jadi kurang banyak, dia bakal manggil-manggil, ngomel minta makan. Jadinya aku ga tenang kalau pergi lama-lama, karena Cimit ga suka makanan yang udah masuk angin, jadi harus per berapa jam refill wet food-nya.
Jujur, aku jadi banyak belajar selama proses mendampingi Cimit si anak kecil berubah jadi ibu ini. Cukup mengilustrasikan bagaimana caranya menghadapi rasa takut punya anak. Bisa kok bisa, seperti yang kerap aku sampaikan ke Cimit walau suka ga tega. Mungkin ada kemiripan situasi Cimit dan aku, yakni kami sama-sama bertumbuh dengan minim support system, tapi kehadiran keluarga baru tentu saja akan membawa kebahagiaan baru, kebutuhan longing for family. Bedanya aku sih udah ga bisa dihitung muda ya kalau mau punya anak haha.
Refleksiku melihat motherhood instinct Cimit yang sangat kuat adalah, pada dasarnya kita perempuan dilahirkan sepaket dengan keinginan untuk menyalurkan energi keibuan ini, cuma yang membuat kita khawatir terlalu banyak ya karena minim support system tadi. Apa iya aku kuat dan mampu membesarkan anak sendiri (kasus Cimit), atau hanya berdua saja dengan pasangan tanpa bantuan keluarga dan saudara lainnya. Kegelisahanku ini dijawab sama Chris, “Gapapa, nanti kita cari mbokde-mbokde deket rumah yang mau bantuin pas kamu hamil sampai ngurus anak.” Semoga ya hehe.







